SELAMAT DATANG...


JIKA ADA YANG INGIN DITANYAKAN, HUBUNGI AKU YAH...



E-MAIL : nikitadevyharyono@gmail.com

TWITTER : @ICIJayapura


FACEBOOK : Nikita Haryono

Senin, 11 Juni 2012

KEPERCAYAAN ANIMISME DAN DINAMISME DI PAPUA


Kepercayaan animisme (dari bahasaHYPERLINK "http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Latin" Latin anima atau "roh") adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia primitif. Kepercayaan animisme mempercayai bahwa setiap benda di bHYPERLINK "http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi"umi ini, (seperti kawasan tertentu, gua, pohon atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar semangat tersebut tidak mengganggu manusia, malah membantu mereka dari semangat dan roh jahat dan juga dalam kehidupan seharian mereka.
Dinamisme (dalam kaitan agama dan kepercayaan) adalah pemujaan terhadap roh (sesuatu yang tidak tampak mata). Mereka percaya bahwa roh nenek moyang yang telah meninggal menetap di tempat-tempat tertentu, seperti pohon-pohon besar. Arwah nenek moyang itu sering dimintai tolong untuk urusan mereka. Caranya adalah dengan memasukkan arwah-arwah mereka ke dalam benda-benda pusaka seperti batu hitam atau batu merah delima. Ada juga yang menyebutkan bahwa dinamisme adalah kepercayaan yang mempercayai terhadap kekuatan yang abstrak yang berdiam pada suatu benda, istilah tersebut disebut dengan mana.
Kepercayaan dan kebudayaan di Papua merupakan suatu hal yang tidak bisa di pisahkan.
Kebudayaan penduduk asli Papua mempunyai persamaan dengan penduduk asli beberapa negara Pasifik Selatan maupun Rumpun, Malanesia. Kebudayaan penduduk asli di daerah-daerah pedalaman Papua kebanyakan masih asli (tradisional) dan sulit untuk dilepaskan dan sangat kuat pengaruh terhadap kepercayaan animisme dan dinamisme.
Dalam hal Kerohanian, sebagian besar  penduduk asli Papua telah mempunyai kepercayaan dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Namun demikian ada sebagian dari penduduk terutama yang berada di daerah pedalaman masih menganut faham animisme dan dinamisme.
Ada sekitar sembilan puluh lokasi lukisan batu (petroglif) yang bernilai di Papua yang telah diketahui/ditemukan.
Lukisan-lukisan batu yang berusia tua itu dikeramatkan penduduk asli Papua. Orang-orang Papua yang menganggap lukisan-lukisan itu berasal dari para arwah leluhur dan hantu-hantu jahat, mengatakan lukisan-lukisan itu dibuat sebelum manusia diciptakan.
Penganut animisme tidak hanya memandang manusia, tapi juga tumbuhan dan hewan, benda dan gejala alam diresapi kekuatan gaib.
Mereka menyelenggarakan berbagai upacara keagamaan untuk menenangkan hantu-hantu dan arwah-arwah yang bergentangan di dunia ini, termasuk arwah-arwah leluhur mereka. Unsur-unsur dari pandangan animistik ini terus berlangsung dan masih diadakan sejumlah upacara keagamaan untuk menenangkan leluhur di kalangan orang-orang Papua saat ini.
Pada banyak tempat/daerah di Papua ditemukan lukisan gambar tangan tertera pada batu-batu dan goa.
Situs geologis di Papua meliputi bagian terbesar dari petroglif di seluruh Indonesia. Lukisan prasejarah lain yang digoreskan pada permukaan batu yang datar juga ditemukan di tempat-tempat ini. Lukisan-lukisan ini menggambarkan deretan hewan-hewan seperti kadal, ikan, penyu, buaya, kuskus, ular, burung, dan kuda laut. Ada juga gambar-gambar pohon kelapa khusus yang tampaknya memiliki daya pelindung untuk menangkal pengaruh-pengaruh jahat. Untuk di Jayapura ditemukan lukisan-lukisan yang mencirikan adanya kepercayaan animisme di sekitar sepanjang Selat Yos Sudarso.
Sementara itu ada juga situs megalitikum di Kampung Ayapo Baru, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, dimana terdapat empat lumpang batu di situs megalitikum dengan formasi tiga buah lumpang batu mengitari sebuah lumpang sebagai pusatnya. "Lumpang batu adalah sebongkah batu yang diberi lubang berbentuk lingkaran, dengan diameter lubang dan dalam rata-rata 15 sentimeter.
Pada jaman dahulu upacara-upacara yang dilakukan oleh penduduk mempergunakan lumpang batu tersebut sebelum bercocok tanam maupun pencarian ikan di Danau Sentani, saat ini masih upacara-upacara yang dilakukan oleh sebagian penduduk berdasarkan kepercayaan nenek moyang sebelum melakukan kegiatan turun ke danau untuk mencari ikan, dan lain lain.

Tidak ada komentar: